Opini

MENYEBAR AGAMA MENIMBANG TAHTA

(Jejak Historis Genealogi Pesantren dan Relasi dengan Kekuasaan Lokal di Ponorogo) Oleh: Murdianto An Nawie Sekretaris Yayasan Al Ittihad Ponorogo Hantaran: Katong Membangun Tahta Batoro Katong, yang kemudian lazim disebut Batoro Katong, bagi masyarakat Ponorogo mungkin bukan sekedar figur sejarah semata. Hal ini terutama terjadi dikalangan santri meyakini Batoro Katong lah penguasa pertama ditanah Wengker, sekaligus pelopor penyebaran agama Islam di Ponorogo. Batoro Katong alias Lembu Kanigoro bersama para koleganya

Khutbah Idul Adha 1441 H (Bahasa Indonesia dan Jawa)

Khutbah Idul Adha 1441 H (Bahasa Jawa) dengan tema “Nyembelih Qurban, Ngicali Sifat-Sifat Hewani”. Khutbah ini disusun oleh KH Moh. Muhsin, ketua Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama Batoro Katong (YAPERTINUKA) Ponorogo. Untuk download versi PDF Khutbah Idul Adha YAWMII MDS Rijalul Ansor Sementara untuk Khutbah Idul Adha 1441 H berbahasa Indonesia menyajikan tema “Anak Sholih Tumbuh dari Bapak Ibu yang Taat Beragama” Untuk download Khutbah Idul Adha 1441 H Bahasa Indonesia (PDF)

Gus Nadir: Karena Kalah Semua Jadi Salah

Generasi kalah, maka semuanya jadi salah. Perkara mubah jadi haram. Masalah muamalah jadi aqidah. Beda fiqh jadi dkafirkan. Ribut perkara siyasah, pahal ujungnya cuma jadi siasat. Sudah miskin tradisi dan rendah literasi, tambah lagi mental orang kalah dalam hal budaya, ekonomi dan politik. Cadar yang menutup tubuhmu itu gak seberapa. Yang parah itu kalau sampai menutupi dirimu dari pandangan dan perspektif yang berbeda seolah dirimu lebih baik dan lebih benar,

Kolom Gus Nadir: Islam yang Bagaimanakah yang Lebih Baik?

حدثنا عمرو بن خالد قال حدثنا الليث عن يزيد عن أبي الخير عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم أي الإسلام خير قال تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف ‎‏(HR Bukhari- Muslim) Ada yang bertaya kepada Nabi: Islam manakah yang lebih baik? Nabi menjawab: memberi makan dan memberi salam baik kepada orang yang kamu kenal atau tidak.

Rukun (Tanpa) Tumpes Kelor

”sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake” (Raden Panji Sosrokartono/kakak RA Kartini) Banyak perspektif dalam kajian budaya Jawa yang meletakkan konflik sebagai ‘unsur’ tabu. Perbedaan pendapat dan bahkan perbedaan pendapatan sekalipun kadangkala akan coba di tutupi dengan idiom ‘rukun’, yang merujuk pada suasana penuh harmoni. Namun kita akan terbelalak jika membaca sejarah ‘pusat pusat kekuasaan Jawa’ –  sebutlah Kraton yang dalam sejarah selalu lekat dengan

Aktor Pesantren dan ‘Rimba Raya’ Politik Praktis

Pesantren adalah institusi pendidikan, sosial sekaligus budaya yang telah memiliki tradisi panjang dalam pengkajian ilmu Keislaman. Bahkan pesantren semenjak lama telah merupakan agen agen pembangunan masyarakat desa yang penuh dengan dinamika, demikian sebagaimana telah diakui oleh antropolog Kuntowijoyo (1998). Pesantren telah memerankan diri sebagai katalisator terbentuknya culture coherence, yaitu dimana elemen elemen baru dalam perubahan sosial, seperti berbagai inovasi dan perubahan budaya berinteraksi dengan tradisi yang telah hidup dan berakar

Ramadhan dan Rimba Raya Rayuan

Ramadhan telah datang, dan umat muslim menyambutnya dengan gembira. Namun ada yang ironis di balik itu semua, yakni dibalik perintah menahan lapar dan dahaga serta hasrat duniawi, ternyata grafik konsumsi masyarakat justru naik drastis di bulan mulia ini. Ternyata konsumsi berlebihan, muncul seiring dikekangnya hasrat lapar dan dahaga. Konsumsi baik berupa makanan dan gaya hidup lainnya, konsumsi terhadap berbagai fashion dan juga barang-barang mewah. Barangkali ini juga terkait dengan tradisi

Penerimaan Santri Baru 2019/2020

Penerimaan Santri Baru 2019/2020 MTs Ma’arif 1 dan MA Ma’arif Nahdlatul Ummah (MAMNU) Ponorogo, yang berlokasi di Jl. Soekarno Hatta VI/24  sebagai Madrasah dengan Visi “Unggul dalam Penguasaan Iptek Berakhlaqul Karimah dan Berbudaya”. MTs Ma’arif 1 dan MA Ma’arif Nahdlatul Ummah (MAMNU) merupakan lembaga formal dikelola terpadu dengan Pondok Pesantren Ittihadul Ummah Jarakan Ponorogo. Layanan yang kami berikan adalah: Pendidikan Karakter berbasis Pembiasaan, Pengembangan diri dan Integrasi dengan Mata Pelajaran

Hindari Komersialisasi Ramadhan

Oleh : Murdianto an Nawie Setiap momentum bulan-bulan Ramadhan kita disuguhi dengan program televisi yang ‘bernuansa religius’. Mulai acara infotaiment, yang sehari-harinya mengekspose kehidupan kehidupan religius artis sekaligus suasana penuh gemerlapan, atau sinetron, dan kelihatan lengkap dengan penghayatan agama-nya. Atau akhir-akhir ini televisi sering menyiarkan tausiyah agama, yang mengadirkan sosok-sosok ‘kyai layar kaca’. Sebenarnya sepintas, ramainya liputan tentang Ramadhan di berbagai media massa dan ruang publik ini menunjukkan kesemarakan kehidupan keberagamaan kita,