Prof Nadirsyah Hosen, Ph.D Rais PCI NU Australia New Zealand, Dosen Fauculty of Law Monash University

Haji Yunus sedang naik angkot berdua dengan Ujang. Tiba-tiba masjid di pinggir jalan itu memutar kaset tilawatil Qur’an. Saat itu memang menjelang datangnya waktu maghrib. Jalanan sedang macet sehingga para penumpang angkot bisa mendengar jelas lantunan ayat suci al-Qur’an. Terdengarlah alunan merdu Qari’ membaca surat al-Anfal. Namun pas tiba di ayat ke-33:

‎وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ

mendadak Haji Yunus menangis tersedu-sedu. Semua penumpang, termasuk Ujang, jadi terkaget-kaget melihatnya. Ujang berusaha menenangkan gurunya itu. Namun Haji Yunus hanya menundukkan kepalanya seolah tak sanggup mengangkat wajahnya.
Untunglah tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di tempat tujuan, segera turun dari angkot seraya membayar ke Pak Supir. Haji Yunus berjalan cepat menuju rumah kontrakannya. Ujang setia mengikuti dari belakang. Setelah itu mereka shalat maghrib berjamaah.
Selepas shalat, Ujang memberanikan diri bertanya: “Ada kejadian apa di angkot tadi?”
Haji Yunus menghela nafas panjang.
“Nak Ujang, paham apa konteks ayat yang tadi kita dengar di angkot?”
Ujang dengan tawadhu’ hanya berdiam diri menunggu penjelasan Sang Guru.
‘Surat al-Anfal ayat 32 bercerita mengenai Abu Jahal yang dengan angkuhnya menantang segera diturunkan azab kepadanya jikalau risalah yang disampaikan Nabi Muhammad itu benar. Ini kesombongan luar biasa. Menantang turunnya azab.
Lantas ayat ke-33 berbunyi:

‎وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” (QS al-Anfal:33)
“Ini jawaban mengapa Allah menangguhkan azab yang diminta oleh Abu Jahal (dalam riwayat lain dikabarkan ayat ini berkenaan dengan an-Nadhr bin Harits) karena dua kondisi. Pertama, karena Nabi Muhammad ada bersama mereka.” Haji Yunus mulai berkaca-kaca lagi matanya. Beliau lantas membuka kitab Tafsir.
Tafsir al-Qasimi menjelaskan:

‎قال القاشاني: العذاب سورة الغضب وأثره، فلا يكون إلا من غضب النبيّ، أو من غضب الله المسبب من ذنوب الأمة، والنبيّ عليه الصلاة والسلام كان صورة الرحمة، لقوله تعالى: وَما أَرْسَلْناكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ [الأنبياء: ١٠٧] . ولهذا لما كسروا رباعيته قال: (اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون) ولم يغضب كما غضب نوح عليه السلام وقال رَبِّ لا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكافِرِينَ دَيَّاراً [نوح: ٢٦

Berkata al-Qasani bahwa azab itu adalah gambaran dari kemarahan, maka itu tidak terjadi kecuali akibat kemarahan Nabi atau Allah yang disebabkan dosa umat, sedangkan Nabi Muhammad itu gambaran dari rahmah, sesuai ayat yang lain: ‘Dan tidaklah Kami mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi semesta’ (QS al-Anbiya 107). Ini terilustrasikan dari doa Nabi: ‘Ya Allah tunjukilah kaumku sesungguhnya mereka belum mengetahui’, dan beliau Saw tidak marah seperti marahnya Nabi Nuh as: ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi’ (QS Nuh:26)
Haji Yunus kemudian membuka-buka Kitab Tafsir at-Thabari, lantas menjelaskan kepada Ujang:
“Kondisi kedua yang membuat Allah menunda azab seperti yang mereka minta adalah karena masih ada yang memohon ampunan Allah. Ber-istighfar. Para ahli tafsir berbeda pandangan: ada yang bilang maksudnya orang musyrik Mekkah saat menjalankan tradisi thawaf mengelilingi Ka’bah berseru, “ghufranaka” memohon ampun pada penguasa Ka’bah, yaitu Allah. Ulama lain menganggap maksud istighfar itu adalah mereka bertaubat dan masuk Islam. Sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa yang beristighfar itu adalah kaum yang sudah beriman kepada Nabi. Ada pula yang mengambil makna kata istighfar di ayat tersebut sebagai shalat. Perbedaan pandangan ahli tafsir ini telah dijelaskan dengan rinci oleh Tafsir at-Thabari.”
Ujang bertanya, “Jadi istighfar itu bisa membuat kita selamat dari azab Allah?”
Haji Yunus kemudian melihat Tafsir modern yang pengarangnya baru saja wafat, yaitu ktab Tafsir Hadaiq ar-Ruh wa ar-Rayhan fi Rawabi ‘Ulumil Qur’an, karya Syekh Muhammad al-Amin a-Harari.

‎قال أهل المعاني دلت هذه الآية على أن الاستغفار أمان وسلامة من العذاب

“Berkata Ahlul Ma’ani (pengarang Tafsir al-Khazin),ayat ini menunjukkan bahwa istighfar itu menyelamatkan dari azab Allah.”
Ujang bertanya lagi, “lantas kenapa Wak Haji menangis saat mendengar ayat “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Wahai Rasul) berada di antara mereka.”
Haji Yunus menjawab: “Secara fisik, Nabi Muhammad telah wafat. Namun secara ruh, saya teringat riwayat Abu Dawud ini:

‎مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

‘Tidak ada seorangpun yang memberikan salam kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan ruhku kepadaku, sehingga aku akan membalas salamnya.’
Ini artinya di penjuru dunia setiap detik banyak sekali saudara kita yang menyampaikan shalawat dan salam kepada Nabi. Dan kita percaya ruh beliau dikembalikan Allah untuk menjawabnya.”
Ujang langsung merinding. “Berarti saat pembacaan shalawat dalam acara maulid itu ruh Nabi memang bisa hadir, Wak Haji? Dan kalau begitu ayat di atas secara spiritual masih berlaku: dimana Nabi berada, azab Allah tidak akann turun. Inikah alasannya para Kiai kita menyelenggarakan perayaan maulid atau membikin majelis ta’lim dimana shalawat selalu dibacakan?’
Haji Yunus mengangguk pelan.
“Tapi Wak Haji belum menjawab, kenapa tadi tiba-tiba menangis saat mendengar ayat ini dibacakan?” Ujang masih penasaran.
Haji Yunus kembali menangis dan bibirnya mengulang-ulang ayat di atas:
“wa anta fihim…”
“wa anta fihim…”
“wa anta fihim…”

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Dan Engkau Hadir Bersama Mereka, Oh Muhammadku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *