MENYEBAR AGAMA MENIMBANG TAHTA

(Jejak Historis Genealogi Pesantren dan Relasi dengan Kekuasaan Lokal di Ponorogo)

Oleh: Murdianto An Nawie

Sekretaris Yayasan Al Ittihad Ponorogo

Hantaran: Katong Membangun Tahta

Batoro Katong, yang kemudian lazim disebut Batoro Katong, bagi masyarakat Ponorogo mungkin bukan sekedar figur sejarah semata. Hal ini terutama terjadi dikalangan santri meyakini Batoro Katong lah penguasa pertama ditanah Wengker, sekaligus pelopor penyebaran agama Islam di Ponorogo. Batoro Katong alias Lembu Kanigoro bersama para koleganya antara lain Ki Selo Aji, Kiai Muslim (Ki Ageng Mirah) adalah pengemban misi suci melakukan ‘Islamisasi’ sekaligus ‘menundukkan’ tanah Wengker, sebuah daerah tenggara Gunung Lawu sampai lereng barat Gunung Wilis[1]. Yang kemudian kita kenal dengan nama Ponorogo dan Madiun selatan sekarang.

Sampai saat ini, nama Batoro Katong, diabadikan sebagai nama Stadion dan sebuah jalan utama Ponorogo. Batoro Katong-pun selalu diingat pada peringatan Hari Jadi Ponorogo, tanggal 1 Suro. Pada saat itu, pusaka tumbak Kara Welang dikirab dari makam Batoro Katong di kelurahan Setono, Kota Lama, menuju Pendopo Kabupaten.  Menurut Amrih Widodo (1995), pusaka sebagai artefact[2]budaya memang seringkali diangkat statusnya oleh kekuasaan pemerintah lokal, sebagai ‘totems’, suatu yang secara sengaja di keramatkan dan menjadi simbol identitas lokal.

Hal inilah yang menunjukkan Batoro Katong memang tak bisa lepas dari ‘alam bawah sadar’ masyarakat Ponorogo, dan menjadi simbol masa lalu (sejarah) sekaligus bagian dari masa kini. Batoro Katong bukan sekedar bagian dari realitas masa lalu, namun adalah bagian dari masa kini. Hidup di alam ‘hiperealitas’, dan menjadi semacam belief  yang boleh emosi, keyakinan, kepercayaan masyarakat. Mengutip The Penguin Dictionary of Psycology, Niniek L.Karim mendefinisikan belief sebagai penerimaan emosional terhadap suatu proposisi, pernyataan dan doktrin tertentu.[3]

Sebagaimana yang telah disebutkan di depan, bagi kalangan tokoh-tokoh muslim tradisional, Batoro Katong tidak lain adalah peletak dasar kekuasaan politik di Ponorogo, dan lebih dari itu seorang pengemban misi dakwah Islam pertama. Posisinya sebagai penguasa sekaligus ‘ulama pertama Ponorogo inilah yang menjadi menarik untuk dilacak lebih jauh, terutama dalam kaitan membaca wilayah alam bawah sadar yang menggerakkan kultur politik kalangan pesantren, khususnya elit-elitnya (kyai dan para pengasuh pesantren) di Ponorogo. Alam bawah sadar inilah yang menurut psikolog Freudian, dominan menggerakkan perilaku manusia. Dan alam bawah sadar ini terbentuk dari tumpukan keyakinan, nilai, trauma-trauma yang terjadi dimasa lalu, yang kemudian hidup terus di bawah kesadaran individu dan suatu masyarakat dari waktu ke waktu.[4]

Dalam konteks inilah penting, mencoba mencari kaitan antara ambisi-ambisi, cita-cita atau bahkan impian Batoro Katong sebagai Peng-Islam dan penguasa Politik Ponorogo dengan kultur politik yang muncul dikalangan pesantren yang tidak lain adalah para keturunan dan penerus ‘perjuangan’ Batoro Katong.

Batoro Katong dalam Sejarah Lisan, suatu Versi

Sejarah lesan, yang tersebar dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi selanjutnya menjadi penting posisinya, terutama dalam kaitan analisis psiko historis. Karena dari sejarah lesan, yang berkembang inilah muncul imajinasi, struktur keyakinan, nilai dalam masyarakat bahkan membentuk kepribadian kolektif suatu masyarakat. Terlepas, dari apakah sejarah lesan tidak merupakan hasil obyektif dari penelitian sejarah? atau apakah sering dicampur dengan dengan berbagai mitologi? Sejarah yang berkembang lewat tradisi lesan, bahkan menjadi semacam belief sebagaimana telah disebutkan di atas.

Dibawah ini akan, mencoba dideskripsikan beberapa hasil investigasi, penelitian dokumen yang kesemuanya tidak lain adalah pernyataan lesan beberapa tokoh dan sesepuh dimasing-masing komunitas di Ponorogo. Sebagaimana telah di ulas di awal tulisan ini bagi masyarakat Ponorogo, Batoro Katong adalah tokoh dan penguasa pertama yang paling legendaris dalam masyarakat Ponorogo. Sampai saat ini Batoro Katong adalah simbol kekuasaan politik yang terus dilestarikan oleh penguasa didaerah ini dari waktu ke waktu. Tidak ada penguasa Ponorogo, yang bisa melepaskan dari figur sejarah legendaris ini.

Makam Ki Ageng Mirah

Batoro Katong, memiliki nama asli Lembu Kanigoro, tidak lain adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari selir yakni Putri Campa yang beragama Islam. Mulai redupnya kekuasaan Majapahit, saat kakak tertuanya, Lembu Kenongo yang berganti nama sebagai Raden Fattah, mendirikan kesultanan Demak Bintoro. Lembu Kanigoro  mengikut jejaknya, untuk berguru dibawah bimbingan Wali Songo di Demak.  Brawijaya V yang pada masa hidupnya berusaha di Islamkan oleh wali Songo, para Wali Islam tersebut membujuk Prabu Brawijaya V dengan menawarkan seorang Putri Campa yang beragama Islam untuk menjadi Istrinya. [5]

Walaupun kemudian Prabu Brawijaya sendiri gagal untuk di Islamkan, tetapi perkawinannya dengan putri Campa mengakibatkan meruncingnya konflik politik di Majapahit. Diperistrinya putri Campa oleh Prabu Brawijaya V memunculkan reaksi ‘protes’ dari elit istana yang lain. Sebagaimana dilakukan oleh seorang punggawanya bernama Pujangga Anom Ketut Suryongalam. Seorang penganut Hindu-Budha Tantrayana, pujangga Majapahit yang berasal dari Bali. Tokoh yang terakhir ini, kemudian ‘desersi’ untuk keluar dari Majapahit, dan membangun peradaban baru di tenggara Gunung Lawu. Ki Ageng Ketut Suryangalam ini kemudian di kenal sebagai Ki Ageng Kutu atau Demang Kutu. Dan daerah yang menjadi tempat tinggal Ki Ageng Kutu ini namakan Kutu, Kini merupakan daerah yang terdiri dari beberapa desa di wilayah Kecamatan Jetis.[6]

Ki Ageng Kutu-lah yang kemudian menciptakan sebuah seni Barongan, yang kemudian disebut Reyog (Reog-Indonesia). Reog tidak lain merupakan artikulasi kritik simbolik Ki Ageng Kutu terhadap raja Majapahit (disimbolkan dengan kepala harimau), yang ditundukkan dengan rayuan seorang perempuan/Putri Campa (disimbolkan dengan dadak merak). Dan Ki Ageng Kutu sendiri di simbolkan sebagai Pujangga Anom atau sering di sebut sebagai Bujang Ganong, yang bijaksana walaupun berwajah buruk. [7]

Pada akhirnya, upaya Ki Ageng Kutu untuk memperkuat basis di Ponorogo inilah yang pada masa selanjutnya di anggap sebagai ancaman oleh kekuasaan Majapahit. Dan selanjutnya pandangan yang sama dimiliki juga dengan kasultanan Demak, yang nota bene sebagai penerus ‘kejayaan’ Majapahit walaupun dengan warna Islamnya. Sunan Kalijaga, bersama muridnya Kiai Muslim (atau Ki Ageng Mirah) mencoba melakukan ‘investigasi’ terhadap keadaan Ponorogo, dan mencermati kekuatan-kekuatan yang paling berpengaruh di Ponorogo. Dan mereka menemukan Demang Kutu sebagai penguasa paling berpengaruh saat itu.

Hal ini bergayung sambut, dengan kepentingan ekspansi kekuasaan dan Islamisasi, penguasa Demak mengirimkan seorang ‘putra terbaiknya’ yakni yang kemudian di kenal luas dengan Batoro Katong dengan salah seorang santrinya bernama Selo Aji dan diikuti oleh 40 orang santri senior yang lain. Saat Batoro Katong datang memasuki Ponorogo, kebanyakan masyarakat Ponorogo adalah penganut Budha, animisme dan dinamisme.[8]

Singkat cerita,  terjadilah pertarungan antara Batoro Katong dengan Ki Ageng Kutu. Ditengah kondisi yang sama sama kuat, Batoro Katong kehabisan akal untuk menundukkan Ki Ageng Kutu. Kemudian dengan ‘akal cerdasnya’ Batoro Katong berusaha mendekati putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini, dengan di ‘iming-imingi’ akan dijadikan istri.

Kemudian Niken Gandini inilah yang ‘dimanfaatkan’ Batoro Katong untuk mengambil pusaka pamungkas dari Ki Ageng Kutu. Pertempuran berlanjut dan Ki Ageng Kutu menghilang, pada hari Jumat Wage di sebuah pegunungan di daerah Bancangan Sambit Ponorogo. Hari ini oleh para pengikut Kutu dan masyarakat Ponorogo (terutama dari abangan), menganggap hari itu sebagai hari naas-nya Ponorogo. Tempat menghilangnya Ki Ageng Kutu ini di sebut sebagai Gunung Bacin, terletak di daerah Selatan Sambit. Batoro Katong kemudian, mengatakan bahwa Ki Ageng Kutu akan moksa dan terlahir kembali di kemudian hari. Hal ini di mungkinkan dilakukan untuk meredam kemarahan warga atas meninggalnya Ki Ageng Kutu.

Setelah ‘dihilangkannya’ Ki Ageng Kutu, Batoro Katong mengumpulkan rakyat Ponorogo dan berpidato bahwa dirinya tidak lain adalah Batoro, manusia setengah dewa. Hal ini dilakukan, karena Masyarakat Ponorogo masih mempercayai keberadaan dewa-dewa, dan Batara. Dari pintu inilah Katong kukuh menjadi penguasa Ponorogo, mendirikan istana, dan pusat Kota.[9] dan kemudian melakukan Islamisasi Ponorogo secara perlahan namun pasti. Kesenian Reyog yang menjadi seni perlawanan masyarakat Ponorogo mulai di eliminasi dari unsur-unsur pemberontakan, dengan menampilkan cerita fiktif tentang Kerajaan Bantar Angin sebagai sejarah reyog. Membuat kesenian tandingan, semacam jemblungan dan lain sebagainya. Para punggawa dan anak cucu Batoro Katong, inilah yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam.[10]

Dalam konteks inilah, keberadaan Islam sebagai sebuah ajaran, kemudian bersilang sengkarut dengan kekuasaan politik. Perluasan agama Islam, membawa dampak secara langsung terhadap perluasan pengaruh, dan berarti juga kekuasaan. Dan Batoro Katonglah yang menjadi figur yang di idealkan, penguasa sekaligus ‘ulama. Pelacakan ‘akar’ kultur pesantren dan elite ormas Islam di Ponorogo, setidaknya dapat dimulai dari titik ini.

Dan terdapat tiga hipotesis awal penulis yang dirancang dengan menggunakan perspektif psiko-historis terkait hubungan pesantren dan politik di Ponorogo, dari deskripsi awal ini, yakni: pertama, upaya meraih kekuasaan (berpolitik praktis) tidak lain adalah bagian dari misi suci ‘berdakwah’ melalui politik. Kedua, mereka yang memiliki kultur berbeda, dan dianggap seringkali berlawanan dengan nilai agama, berarti juga adalah musuh secara politis yang harus ‘di kuasai’  dan kemudian ‘di beradabkan’. Ketiga, untuk melakukan proses memberadabkan masyarakat melalui agama, dan melakukan proses penjinakan-penjinakan unsur-unsur subversif yang ada dalam masyarakat Ponorogo.

Ini adalah strategi dan karakter yang dilahirkan dari percampuran yang ‘tak terurai’ antara agama sebagai misi suci dan politik sebagai artikulasi kepentingan serta area dakwahnya. Model percampuran inilah yang melahirkan corak pesantren serta tokoh-tokoh santri menjadikan Batoro Katong beserta para pengikutnya sebagai modelnya. Berikut ini akan dideskripsikan corak pergulatan pesantren awal dengan kekuasaan pada masa awal di Ponorogo, dengan mengambil tokoh-tokoh sentralnya.

Ki Ageng Mirah Sang Pendakwah Islam Pertama di Wengker

Namanya Muslim atau disebut Kiai Muslim. Kiai Muslim hidup pada paruh awal abad XV (1400-an) dan yang merupakan salah satu santri langsung dari Sunan Kalijaga. Ia merupakan keturunan langsung dari Ki Ageng Pandanaran alias Sunan Tembayat, yang mendapatkan tugas dari para Wali untuk melakukan Islamisasi Wengker bersama Sunan Kalijaga. Nama  Mirah didapatkan dari karakternya yang pemurah dan dermawan (jawa: mirah). Kedermawanan Kiai Muslim ini terwujud dari cerita lisan dari penuturan kiai Mujahidin Farid, yang menuturkan: “suatu saat Ki Ageng Mirah panen padi, semua orang yang ikut memanen diberikan bagian yang amat banyak. padahal mereka tidak ikut merawat pertumbuhan padi itu..”.

Penelusuran terhadap sumber lisan maupun silsilah dari berbagai situs makam di Ponorogo menyebutkan bahwa Kiai Muslim alias Ki Ageng Mirah adalah keturunan dari Sunan Giri (‘Ainul Yaqin) melalui jalur Sunan Prapen. Sunan Prapen inilah yang kemudian melahirkan Maulana Sulaiman yang sering disebut sebagai Ki Ageng Gribi. Dari garis inilah lahir Ki Ageng Mirah. 

Kiai Muslim melaksanakan dakwahnya dengan menempati suatu daerah di bantaran kali Madiun yang membelah kota Ponorogo, tepatnya di daerah utara Tempuran Sekayu (sekitar 2 km barat pusat kota Ponorogo). Sebuah daerah pertemuan tiga sungai kecil dibarat kota Ponorogo. Sangat dimungkinkan daerah ini menjadi salah satu tempat potensial perkembangan suatu peradaban awal, terutama kedekatannya dengan sumber kehidupan yaitu air.

Kiai Muslim pertama-tama menjadi seorang teliksandi, pengintai, atau sebutlah pelaksana tugas spionase yang diberikan oleh para Wali untuk mengamati perkembangan di Wengker dan para tokoh-tokoh pra Islam yang berpengaruh pada masa itu. Hal ini dilakukan untuk membuka dakwah Islam sekaligus perluasan pengaruh kekuasaan kerajaan Islam awal yakni Demak. Saat itu ia menemukan salah satu kekuatan pengaruh itu dari Demang Kutu atau Ketut Suryongalam, yang tinggal di Jetis beserta para muridnya, salah satu yang terdekat dengan tempatnya tinggal saat itu adalah Honggolono.

Kiai Muslim atau Ki Ageng Mirah membuat sebuah pemukiman untuk menjalani hidupnya sambil mengajarkan agama kepada anak- cucunya  yakni Mukasyaf, Nur Salim dan Umar. Dari aktivitasnya inilah Pesantren paling awal lahir di Wengker. Disebutkan dalam Babad Ponorogo, Kiai Muslim atau Ki Ageng Mirah kemudian mendapatkan sekutu, setelah Lembu Kanigoro (yang kemudian disebut Batoro Katong) bersama pengikutnya Selo Aji, salah seorang keluarga Brawijaya V dan adik Raden Patah Demak datang ke Wengker. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk membangun negara di tanah Wengker, sebagai pelanjut dari kejayaan Majapahit dan perluasan kekuasaan Demak Bintoro. Kedatangan mereka juga adalah untuk mencegah semakin meluasnya pengaruh Pujangga Ketut Suryongalam, desertir Majapahit yang tidak lain bekas pengikut ayah Batoro Katong yakni Bhre Wirabumi (Brawijaya V).

Di ceritakan dalam Babad Ponorogo (Poerwowijoyo:1978, 20-22) bahwa Batoro Katong dan Selo Aji-lah yang menemui Kiai Muslim yang telah tinggal di Mirah beberapa waktu sebelumnya. Batoro Katong mengungkapkan maksud kedatangannya. Gayung bersambut akhirnya Lembu Kanigoro dan Selo Aji kemudian bersekutu dengan Kiai Muslim (Ki Ageng Mirah) untuk “menyebarkan agama Islam sekaligus membangun negara”. Setelah tercapainya kesepakatan ini, Lembu Kanigoro (Batoro Katong muda), Selo Aji kemudian kembali ke Demak, untuk melaporkan hasil kunjungan awalnya ke Wengker. Setelah itu Raden Patah memberikan kepercayaan kepada Lembu Kanigoro untuk membangun kekuasaan di Wengker, dengan memerintahkan Lembu Kanigoro dengan Selo Aji kembali ke Wengker, dengan disertai dengan empat puluh (40) pasangan prajurit sekaligus para alim dalam agama untuk mengikuti Lembu Kanigoro ke Wengker.

Dengan dibantu Kiai Muslim dari Mirah, Lembu Kanigoro dan Selo Aji beserta 40 pengikutnya kemudian membangun perkampungan baru yakni Glagah Wangi. Diperkirakan situs perkampungan sekarang berada di barat jembatan Ketegan, sisi utara Desa Setono Jenangan Ponorogo. diperkampungan awal inilah pemukiman kaum muslim dibangun, dan merupakan cikal bakal dari pusat kekuasaan Wengker, yang disebut sekarang dengan Ponorogo Kota Lama. Sebagai komunitas santri, perkampungan ini menjadikan aktivitas belajar agama sebagai salah satu kegiatan rutin, yang terutama dilakukan diwaktu malam. Selain aktivitas militer (seperti latihan perang) sebagaimana lazimnya, punggawa kerajaan yang akan mendirikan tanah baru. Inilah yang dapat disebut menjadi pesantren kedua di Ponorogo setelah tempat tinggal Kiai Muslim di Mirah.

Setelah terbangun kekuatan politik yang cukup kuat, mulailah persaingan pengaruh antara Batoro Katong denga Ki Ageng Kutu Surukubeng (Ketut Suryongalam) terjadi. Persaingan politik inilah yang diakhiri dengan dikalahkannya Ki Ageng Kutu, dan semua keluarga yang tersisa menjadi pengikut dari Batoro Katong. Dari deskripsi ini dapat disimpulkan bahwa penyebaran agama melalui pesantren awal di Ponorogo berkaitan langsung dengan proses pendirian kekuasaan negara, dan saling menyokong untuk menundukkan kekuasaan oposisi komunitas Budha Tantrik, yang di pimpin Ki Ageng Kutu.

 

Belief Pesantren Ponorogo: dari Menyokong Kuasa sampai Menyebar Agama

Para penerus dakwah setelah Ki Ageng Mirah ini, seperti Kiai Donopuro bersaudara dari Setono Tegalsari, juga para muridnya termasuk Ki Ageng Besari (pendiri Pesantren Gebangtinatar Tegalsari) kemudian, memperkuat aktivitas dakwahnya dengan melembagakan dalam bentuk pondok pesantren. Dimana banyak orang bermukim untuk belajar ilmu agama, dan menjalani berbagai ritual menempa diri menjadi manusia yang alim. Bentuk fisik kelembagaan pesantren ini bisa dibandingkan dengan padepokan –Model Ki Ageng Kutu—yang telah ada sebelumnya, dengan substansi isi ajaran yang dirubah sesuai ajaran Islam. Disanalah terlihat dengan jelas penerapan salah satu prinsip ushul fiqhal mukhafadzatu ‘ala qadimishalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”.

Penulis didepan makam Pangeran Diponegoro di Makassar

Keberadaan pesantren-pesantren penerus Mirah sampai masa keemasan Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari tidak lain adalah metamorfosa mimpi Ki Ageng Mirah untuk menyebarkan Islam yang kemudian berkolaborasi dengan kepentingan Batoro Katong yang berniat membangun kekuasaan politik baru di Ponorogo. Dua kepentingan ini kemudian menyatu dan saling menyokong, yang pada kasus pesantren awal ini peran pesantren menjadi amat penting dalam pembangunan kekuasaan politik Batoro Katong dan para penerusnya. Bahkan pada dua abad kemudian salah seorang santri, cicit Kiai Ageng Besari (Kiai Buchori) menjadi bupati Ponorogo dengan Gelar Adipati Tjokronegoro I. Ini menunjukkan kolaborasi menyebar agama-menyokong kuasa, berjalan secara baik untuk semakin memperkecil pengaruh ajaran dan pengaruh politik Ki Ageng Kutu dengan para pengikutnya. 

Pada saat yang sama, pengaruh ini kemudian diperkuat dengan para pengikut Diponegoro yang meneruskan perjuangan melawan penjajah, dengan cara ‘lain’ ke arah Timur pada pertengahan 1800-an. Kedatangan besar-besaran pengikut Diponegoro, menambah energi dakwah Islam di Ponorogo, Madiun, Trenggalek, Tulungagung dan Blitar dan beberapa wilayah lain. Pengikut Diponegoro ini terdiri dari kelompok kritis terhadap kekuasaan kolonial, dan pesantren mendapat suntikan ruh kritis dan perlawanan dalam dirinya. Dan pada saat yang sama para pengikut Diponegoro ini memasukkan semangat kritis dan perlawanan dalam belief kehidupan santri dan pesantren di Ponorogo. Nama Kiai Chamzali Jarakan -sebagai salah satu contoh- dan nama lainnya mendirikan pusat aktivitas dakwah berupa masjid dan pesantren di berbagai penjuru Ponorogo, sebagai bagian dari tugas dakwah Islam sekaligus proses kaderisasi para santri pejuang. Para prajurit dan laskar Diponegoro ini mendapatkan tempat yang cukup nyaman di Ponorogo, apalagi diketahui dalam arsip kolonial sebagaimana dicatat Peter Cerey [11], bahwa Kiai Ageng Muhammad Besari sendiri sebenarnya bersimpati terhadap perjuangan Diponegoro, meskipun tidak aktif memberi dukungan.   

Walaupun demikian, kita dapat menarik kesimpulan bahwa telah terjadi simbiosis mutualistik antara pesantren dan kekuasaan politik dalam perkembangan pesantren-pesantren awal di Ponorogo. Selain itu juga terdapat fakta bahwa pesantren tetap konsisten pada tugas utamanya untuk melakukan rekayasa sosial melalui pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu tidak bisa dinafikan bahwa terdapat potensi bahwa pesantren dapat menjadi kekuatan kritis terhadap kekuasaan, sebagaimana ditunjukkan para santri pengikut Diponegoro terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Dan pada masa selanjutnya pola strategi dakwah Islam yang dilakukan pesantren, bertemu pada dua semangat yakni: pertama, membangun kekuasan politik –sebagaimana dilakukan Batoro Katong dan pengikutnya-, kedua, semangat melawan kekuasaan yang zalim – sebagaimana dilakukan para pengikut Diponegoro.

Inilah yang membuat pesantren –dan kaum santri- di Ponorogo bisa menjadi kekuatan penyeimbang, yang bisa bergerak lebih fleksibel dan luwes terutama dalam hubungannya dengan pengaruh kekuasaan. Pada suatu saat mendukung kekuasaan dengan tidak membuta, dan pada saat lain bertindak kritis jika kekuasaan melakukan kezaliman pada rakyatnya. Semoga. wallahu a’lam bishawab

——————————————–

[1] KH Mudjab Thohir, Sejarah Lahirnya Reog Ponorogo, Ponorogo; tt hal. 13

[2] Artefact, peninggalan material yang di catat sebagai bagian sejarah penting suatu tempat. (lih. Amrih Widodo, The Stage of The State, arts of the people and rites of hegemonization, artikel yang disampaikan dalam seminar “Material Bases for Culture”, yang dilaksanakan oleh SPES Foundation bersama uksw Salatiga, 4 September 1991. hal 8

[3] Ninik L Kariem, Soekarno di dunia Hipperreal, Kompas, 1 Juni 2001 edisi 100 tahun Soekarno.

[4] Ibid

[5] data-data ini kami dapatkan dari wawancara kami lakukan berkali kali dengan Mbah Mohammad Yusuf, salah seorang dalang Jemblung Katong Wecono, dan juga keturunan Batoro Katong yang ke 12 dari kelurahan Setono.  Versi serupa ini kami dapatkan dari tulisan KH Mudjab Thohir (ibid) dan dalam penelitian Ridho Kurnianto, Sikretisme Budaya Islam Jawa (Sejarah Seni Jemblung Katong Wecono, Ponorogo. Juga berasal Mbah Toikromo, adalah dalang Ruwatan Purwokolo, dan Mbah Saimin seorang pemimpin spriritual masyarakat Gelang Kulon Sampung keduanya adalah pengagum Ki Ageng Kutu lawan politik dan kultural Batoro Katong. lihat juga dari hasil penelitian peneliti lain Seperti Bisri Effendi (1991), tentang Reog dalam Cengkeraman Kekuasaan, dalam Masyarakat Nusantara, LIPI:2001

[6] Patung-patung Ki Ageng Kutu kini banyak kita temuai di pintu-pintu masuk desa Kutu Kulon dan Kutu Wetan sampai daerah Bibis, yang masuk kawedanan Arjowinangun di sebelah barat Kec. Sambit.

[7] KH Mudjab Thohir, Ibid.

[8] Tuturan Lisan Kiai Mujahiddin Farid

[9] kini di sebut kota lama, daerah sekitar Desa Setono, Kec, Kota Ponorogo

[10] Keterangan dari Mbah Yusuf, 16 Desember 2004

[11] Peter Cerey. 2008, Power of Prophecy: Prince Dipanegara and the End of Old Order in Java, 1785-1855, Leiden: KITLV Press, hal 789  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *