Home » #PonPesIttihadulUmmah

#PonPesIttihadulUmmah

PONPES ITTIHADUL UMMAH PONOROGO KEMBALI GELAR RUTINAN BAHTSUL MASAIL AHAD PON

Ponorogo – Pondok Pesantren Ittihadul Ummah Ponorogo menggelar rutinan bahtsul masail pada Sabtu, 8 Agustus 2026 bertempat di Aula Sunan kalijaga. Kegiatan ini dimulai sekitar pukul 20.30 WIB – Selesai. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutinan yang diselenggarakan setiap malam Ahad Pon.
Salah satu pengurus LBM mengatakan bahwa tujuan dari diadakannya LBM Ahad Pon ini adalah untuk melatih cara berfikir santri agar menjadi lebih kritis dan memberikan jawaban pada kasus-kasus permasalahan umat yang baru muncul serta untuk melatih mental santri agar bisa mengemukakan pendapatnya di depan umum.
Kegiatan ini dihadiri oleh para perumus dan Mushahih LBM Ponpes Ittihadul Ummah, diantarnya KH. Nasta’in, KH. Syifaul Fuad, Ustd. Imam, Ustd. Asrori, Ustd. Yusuf, Ustd. Rian, Ustd. Tamim, serta para santri Ponpes Ittihadul Ummah.
Kegiatan LBM ini dibuka oleh M. Alvin selaku pembawa acara. Dilanjutkan pembacaan tahlil dan do’a oleh KH. Syifaul Fuad. Dilanjutkan sambutan oleh Ustd. Imam selaku ketua LBM Ponpes Ittihadul Ummah.
Pada LBM kali ini membahas mengenai permasalahan dalam sholat Jum’at salah satunya ialah di sebuah dusun terdapat dua masjid yang sama-sama menyelenggarakan salat Jumat. Jumlah jamaah di masing-masing masjid tidak selalu mencapai 40 orang dan tidak semuanya berstatus mustawthinin. Jika digabung, jumlah jamaah memenuhi syarat, tetapi penyatuan dikhawatirkan menimbulkan perselisihan di masyarakat. Bagaimana hukum pelaksanaan salat Jumat di dua masjid tersebut ketika masing-masing jamaah kurang dari 40 orang, sementara penyatuan jamaah berpotensi menimbulkan mafsadat?
Rangkaian kegiatan inti LBM diawali dengan pembacaan deskripsi permasalahan oleh Rizki Alfian. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sesi isykal deskripsi, yaitu memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk menyampaikan pertanyaan mengenai hal-hal yang belum dipahami dari deskripsi masalah yang telah dipaparkan. Selanjutnya, forum memasuki sesi tanya jawab. Pada sesi ini, moderator memilih tiga jawaban yang akan dibahas lebih lanjut. Para santri kemudian diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, tanggapan, maupun argumentasi terhadap jawaban yang telah dipilih. Pembahasan dilakukan secara bergantian pada setiap jawaban hingga tidak ada lagi pembahasan yang perlu ditambahkan. Setelah seluruh jawaban selesai dikaji, forum menetapkan jawaban yang telah disepakati bersama. Hasil keputusan tersebut kemudian dishahihkan oleh mushahih LBM sebagai keputusan akhir forum.
Pada pertanyaan tersebut disepakati bahwa boleh mendirikan dua sholat Jum’at dalam satu dusun ketika ada hajat atau dharurat. Namun terdapat dua syarat yang harus dipenuhi meliputi jauhnya tempat sholat dan sulitnya berkumpul dalam satu tempat.
Kegiatan LBM ditutup dengan pembacaan surah Al Fatihah yang dipimpin oleh mushahih LBM, dan para santri kembali ke asrama masing-masing untuk istirahat. Seluruh kegiatan berjalan dengan lancar dan tertib, kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai permasalahan kehidupan sehari-hari dan dapat menyikapi berbagai persoalan yang ada dengan lebih bijak dan teliti.
Penulis :
– Aprilia Putri Mutiara
– Ayu Ni’matul Mahmudah
Editor :
– Murdianto An Nawie

 

PONPES ITTIHADUL UMMAH PONOROGO KEMBALI GELAR RUTINAN BAHTSUL MASAIL AHAD PON Read More »

Tasyakuran Khotmil Imrithi Pondok Pesantren Ittihadul Ummah

Ponorogo – Pondok Pesantren Ittihadul Ummah menggelar kegiatan Tasyakuran Khotmil Imrithi pada Sabtu, 1 Agustus 2026 di Aula Sunan Kalijaga, mulai pukul 19.20 hingga pukul 21.30 WIB. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan khusus untuk santri kelas 5 Madrasah Diniyah Wustho Al Jariyah.
Pengasuh Pondok Pesantren Ittihadul Ummah, KH. Nasta’in, menyampaikan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan motivasi kepada santri kelas 4 dan 5 dalam mempelajari ilmu Nahwu, khususnya kitab Imrithi, sehingga mereka akan lebih bersemangat untuk menghafalkan dan memahami. Selain itu, tasyakuran ini menjadi bentuk apresiasi atas keberhasilan santri yang telah menyelesaikan studi ilmu Nahwu tingkat dasar tapi komplit yaitu Jurumiyah dan Imrithi. Acara ini juga untuk menyampaikan rasa syukur dan kabar gembira kepada orang tua terkait potensi dan prestasi anak-anak mereka, sekaligus memperkuat keilmuan lembaga.
“Penguatan Nahwu dalam artian santri hafal, paham dan mampu mempraktikkannya, akan menguatkan proses berpikir santri, yang akan termuat dalam kegiatan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) dan Literasi Umum” ujar beliau, KH. Nasta’in selaku pengasuh Pondok Pesantren Ittihadul Ummah.
Kegiatan ini dihadiri oleh pengasuh Pondok Pesantren Ittihadul Ummah yaitu beliau KH. Nastain, KH. Moh. Syifaul Fuad, dan KH Ahmad Kirom. Selain itu, turut hadir Kepala beserta jajaran asadidz-asatidzah Madin Wustho Al Jariyah, Ketua Yayasan Al Ittihad, Wali santri wisudawan/wisudawati, serta para peserta haflah imriti dan seluruh santri Pondok Pesantren Ittihadul Ummah.
Sebelum masuk pada acara formal, suasana hangat dibuka dengan lantunan sholawat diiringi tabuhan Banjari yang membuat suasana semakin terasa khidmat. acara formal kemudian dipandu oleh pembawa acara, M. Ahyan Nabil Akbar dan M. Alvin, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang di kumandangkan oleh Muhammad Ergi Hafidz.
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan wali santri yang disampaikan oleh Muhammad Samsuri (wali dari Muh. Naufal Al Mudzky), kemudian sambutan Kepala Madrasah Diniyah Wustho Al Jariyah sekaligus pembacaan Surat Keputusan oleh KH. Moh. Syifaul Fuad.
Suasana semakin khusyuk saat para wisudawan/wisudawati melantunkan (lalaran) Nadhom Imrithi. Acara berlanjut ke sesi tanya jawab yang dipandu oleh Ustadz Satya Arrohman, kepada para wisudawan/wisudawati secara acak. Sesi tanya jawab pertama terkait sambung nadhom yang diberikan kepada Muh. Naufal Al Mudzky, Rizky Alfian dan Mirza Amania. sementara sesi tanya jawab yang kedua mengenai ilmu Nahwu Shorof yang diberikan kepada Robbith Alfan Nugroho dan Alif Muzayanah.
Kemudian acara di lanjutkan dengan do’a dan sambutan oleh pengasuh Pondok Pesanteren Ittihadul Ummah yaitu beliau KH. Nastain. Dalam sambutannya beliau menyampaikan tiga point penting pembelajaran dari kitab Imrithi. “Pertama dalam bait “Idil fata hasba’ tiqadihi rufi’a, wa kullu man lam ya’taqid lam yantafi’” yang menjelaskan bahwa Pemuda harus punya prinsip terutama diera digital yang canggih ini, karena akan semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Maka, i’tiqod menjadi kunci untuk kemaslahatan”.
“Kedua dalam bait “Fa nas’alulmannana ay yujirana, minarriya muda’ifan ujurana, wa ay yakuna nafi’an bi ‘imihi man i’tana bi hifzihi wa fahmihi” maksudnya menghafal itu penting tetapi memahami ilmu jauh lebih penting untuk kemanfaatan. Tahapannya adalah hafal, paham, menerapkan/mempraktekan, menganalisa, membandingkan dan Mengkreasi, yang merupakan bagian dari pola pikir yang utuh. Ketiga, “Ka anta ‘indi wal fata bi dari, wabni qara wadha abuhu qori” yang mengajarkan bahwa pemuda yang mempunyai prinsip dan gemar membaca, maka kelak anaknya pun juga terbiasa membaca sepertinnya (menjadi teladan bagi generasi penerus)”.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara pengasuh Pondok Pesantren, jajaran asatidz Madrasah Diniyah serta para wisudawan/wisudawati. Acara yang penuh keberkahan ini resmi berakhir pada pukul 21.30 WIB dengan lancar dan hikmat.

Penulis :
Aprilia Putri Mutiara
Ayu Ni’matul Mahmudah
Editor:
Murdianto An Nawie

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak-anak sudah bisa hafal imrithi maka mereka bisa lomba apapun di alam dunia ini, seumpama sekarang mereka lomba imrithi dia berhasil maka ketika menjadi mutakhorijin sudah lulus alumni terus lomba di urusan kehidupan nyata apapun itu, insyaallah niku saget berkompetisi, mereka terbiasa belajar, niteni, memeraktekkan maka di kehidupan luar apapun yang dia lalukan itu mesti sudah terbiasa untuk niteni dan mempraktikan

Semoga nadhom imrithi ini memberikan manfaat bagi
Dalam imriti saya ada 3 untuk pembelajaran
Pemuda harus punya prinsip terutama di masa digital yang canggih semakin sulit membedakan mana yang benar/salah. Maka i’tiqod menjadi kunci untuk kemaslahatan.
Apal penting tapi paham itu lebih penting untuk kemanfaatan, 1 hafal 2 paham 3 penerapan/mempraktekan , menganalisa, membandingkan. Mengkreasi bagian dari pola pikir.
Ka anta ‘indi … wabni koro wada abu hu qori
Karena pemuda punya prinsip tersebut telah membaca, maka anaknya pun juga membaca sepertinya

Tasyakuran Khotmil Imrithi Pondok Pesantren Ittihadul Ummah Read More »

Scroll to Top