Tenggelam dalam Aura Positif Tegalsari

Aura Positif: Bagian dalam Masjid Tegalsari

Lepas pertengahan Ramadhan, masjid-masjid tua bersejarah, mulai disesaki oleh kaum muslimin. Tidak ada perintah untuk memilih masjid-masjid jami’ tertentu, tapi artinya masjid itu mustilah dipakai untuk shalat Jum’at. Dan di Ponorogo sendiri ternyata hanya masjid-masjid tertentu dipilih oleh kaum muslim dan kota sekitar. Misalnya Masjid Tegalsari di Gebang Tinatar Tegalsari.

Mengapa masjid-masjid tua ini menjadi pilihan? Ada alasan di balik itu semua. Masjid-masjid itu telah digunakan untuk memutar energi positif dalam waktu yang melintas zaman, berupa kegiatan ta’lim, wirid, mujahadah, istighatsah dan tirakat selama sekian waktu. Tegalsari adalah salah satu situs penting dalam kisah pembentukan peradaban di Nusantara, dimana para ulama penting Nusantara pernah belajar di tempat ini. Sebut saja pujangga besar Ranggawarsita. Di sepanjang Abad XVII-XIX kita membayangkan tempat seperti Tegalsari diisi para santri, yang tenggelam dalam tirakat panjang, menghafal doa-doa dan shalawat, malam-malam mereka bermujahadah, membaca al Qur’an sepanjang hari. Para ulama shaleh, memberikan pengajaran dan mewariskan roh perjuangan pada calon penerus peradaban bangsa.   

Kita dapat menduga akan ada energi luar biasa lahir disana. Energi yang muncul dari putaran selffullfilling prophecy – harapan kebaikan- yang terus menerus di putar didalamnya. Energi   yang akan menyerap manusia yang mau berniat kuat untuk terus memutar pusara itu. Manusia ini akan tenggelam dalam energi positif yang luar biasa, dalam ruang fisik muapun ruang batinnya. Sebagaimana energi positif yang berputar terus menerus itu, telah membuat aura tenang, bersih dari polusi spiritual. Disanalah sebagian besar muslim Nusantara, dapat mengolah energi spiritual dan melakukan perjalanan spiritual dengan baik.

Hal ini dapat kita bandingkan dengan inspirasi dari teori-teori fisika, kita mengenal teori listrik statis, dimana dua energi yang saling bergesekan dalam waktu tertentu dapat menghasilkan energi listrik. Dengan demikian, tempat ini diyakini dapat memberikan dampak positif bagi mereka yang melakukan, i’tikaf, shalat malam, dan berziarah ditempat-tempat tersebut. Energi positif, pada akhirnya bereaksi dengan tubuh manusia yang datang kepadanya, membersihkan sampah-sampah spiritual dalam dirinya. Penjelasan teori fisika statis ini perlu di baca oleh banyak orang yang telah berprasangka terhadap pilihan ritual akhir Ramadhan dimasjid tertentu ini sebagai bid’ah, tahayul dan churafat.

Melampaui hari-hari akhir Ramadhan dengan menghabiskan waktu di masjid-masjid legendaris ini barangkali adalah proses terapi psikologis setelah sepanjang tahun kita terjebak dalam rutinitas yang membuat jasmani dan ruhani kita alpa. Dalam dunia terapi modern untuk masalah psikologis, kita mengenal nomenklatur religous treatment yang juga disetujui oleh pakar-pakar psikologi modern. Tentu hasil dari terapi  ini tentu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang mau menjalani dengan seksama detik-detik akhir Ramadhan di Masjid-masjid legendaris dan bersejarah seperti Tegalsari.

*Murdianto An Nawie, Sekretaris Yayasan Al-Ittihad Ponorogo, Aktif di Jaringan Gusdurian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *