Ponorogo – Pondok Pesantren Ittihadul Ummah Jarakan, Ponorogo, menutup rangkaian puncak haul Almaghfurlah KH. Imam Sayuti Farid pada Rabu (17/06/26) yang digelar di lingkungan pesantren.
“Haul abah ke-3 ini sangat berkesan menurut saya karena semakin tahun semakin meriah dan berkembang dalam beberapa aspek. Contohnya seperti rangkaian acara yang sangat bermanfaat mulai dari bahtsul masail, ziaroh maqbaroh, sima’an Al-Qur’an bil ghoib, dan terakhir adalah pengajian akbar bersama Prof. Dr. M. Ali Aziz dan Ust. Laits” Ungkap Anisa, salah satu santriwati Pondok Pesantren Ittihadul Ummah.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat, di antaranya Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag., Ust. Laits Atsir, Drs. KH. Ansor M. Rusydi, KH. Mukhsin, KH. Dwi Agus Prayitno, M.Si., KH. Sholihan Al-Hafidz, KH. Moh. Thohari, H. Marjuni, S.Ag., M.Pd.I., Kapolsek Ponorogo, Dr. Idam Mustofa, M.Pd., keluarga besar Yayasan Ittihadul Ummah Ponorogo, wali santri, serta masyarakat lingkungan sekitar.
Rangkaian acara dimulai setelah salat Subuh dengan khataman Al-Qur’an yang dipimpin oleh KH. Nasta’in, dilanjutkan pembacaan Al-Qur’an oleh para hafiz. Khataman berlangsung hingga pukul 15.30 WIB dan ditutup dengan doa khatmil Qur’an yang dipimpin oleh Ust. Anwar Sururi, Al-Hafidz.
Pada malam harinya, puncak haul digelar dengan pengajian akbar yang menghadirkan Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag. dan Ust. Laits Atsir, serta dimeriahkan oleh grup sholawat Iqtida Binnaby. Acara dimulai pukul 19.30 WIB dengan lantunan sholawat sebagai pembuka, kemudian dilanjutkan pembacaan Burdah oleh Ust. Laits.
Acara inti dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dan dibuka oleh Gus Reza selaku pembawa acara. Setelah itu, pembacaan tahlil dipimpin oleh KH. M. Mukhsin dari Ponpes Darul Huda Mayak, dilanjutkan doa oleh Drs. KH. Ansor M. Rusydi. Sesi berikutnya diisi dengan sambutan keluarga ndalem sekaligus pembacaan biografi KH. Imam Sayuti Farid oleh KH. Syifaul Fuad. Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan penyerahan buku Genealogi karya KH. Imam Sayuti Farid serta foto beliau kepada Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Dr. Idam Mustofa, M.Pd., selaku Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Ponorogo, dan Dwi Agus Prayitno, S.H., M.Si., selaku ketua DPRD Ponorogo.
Acara kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.Dalam tausiyahnya, Prof. Ali Aziz menyampaikan bahwa KH. Imam Sayuti Farid merupakan sosok ulama yang produktif dalam menulis. Salah satu karya beliau yang dikenal adalah Genealogi dan Jaringan Pesantren di Wilayah Mataram. Beliau juga menjelaskan bahwa buku Genealogi karya KH. Imam Sayuti Farid berisi catatan silsilah dan sejarah jalur keturunan (nasab) keluarga besar ulama di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur, meliputi Madura, Pasuruan, dan Probolinggo.
“Di masa ketika belum ada komputer, Romo Yai Imam Sayuti Farid sudah menuliskan karya-karya penting yang tidak banyak ditulis orang, tetapi sangat dibutuhkan,” ungkap Prof. Ali Aziz.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menekankan pentingnya produktivitas karya. Menurutnya, setiap manusia memiliki potensi, namun perlu dorongan untuk mengeluarkannya, ibarat pasta gigi yang harus ditekan agar bisa keluar. Prof. Ali Aziz juga menyampaikan pesan reflektif, “Hiduplah, meskipun kelak kita sudah tidak hidup.” Maksudnya, setiap orang hendaknya meninggalkan karya atau jejak yang bermanfaat agar tetap dikenang meskipun telah tiada.
Ia menambahkan, meskipun KH. Imam Sayuti Farid telah wafat, karya-karyanya tetap hidup dan terus dibaca. Hal itu membuat kontribusi beliau tetap dikenang dan memberikan manfaat hingga saat ini.
KH. Imam Sayuti Farid dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki dua dimensi penting dalam kehidupannya, yaitu sisi akhlak dan etos kerja, serta sisi individu yang saling melengkapi dalam membentuk peran beliau di tengah masyarakat. “Dalam sisi akhlak dan etos, yang patut kita teladani dari beliau adalah kecintaanya terhadap ilmu dan semangat belajar, beliau dulu pas mengajar di UINSA selalu meyempatkan pulang pada saat jadwalnya ngaji tafsir jalalain di pondok”. Ujar Gus Emka Nujhan Farhani.
Dari sisi individu, “beliau merupakan sosok kyai yang memadukan keteladanan, kedisiplinan, dan kedekatan sosial dalam kepemimpinannya. Ditempa oleh lingkungan keluarga pejuang dakwah dan pendidikan pesantren yang kuat, beliau tumbuh menjadi pribadi yang tekun, sederhana, serta memiliki kepekaan tinggi terhadap masyarakat. Selain itu beliau mempunyai karakter egaliter yakni tampak dari kemampuannya membangun hubungan yang hangat dan terbuka dengan santri tanpa mengurangi kewibawaan seorang kyai. Keramahan dan humor yang beliau miliki menjadikan dakwah dan pendidikan terasa lebih membumi, sehingga setiap orang merasa dihargai dan nyaman berinteraksi dengannya. Di balik sikapnya yang santai, beliau dikenal sangat disiplin, teliti, dan matang dalam memimpin, sehingga mampu menghadirkan keteladanan yang hidup melalui tindakan nyata sehari-hari”. Ungkap Nurul Khasanah.




